Khutbah I
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله الغفور التواب، الذي وعد المستغفرين بجزيل الثواب، وجعله أمانا من العذاب
أشهد ان لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد ان سيدنا محمدا عبده ورسوله وصفيه وحبيبه الذي لا نبي بعده
اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا محمد وعلى أله واصحابه ومن تبعهم بإحسان الى يوم الدين، أما بعد
فياأيها الحاضرون، أوصيكم ونفسي بتقوى الله فقد فاز المتقون، قال الله تعالى في كتابه الكريم: ياأيها الذين آمنوا اتقوا الله حق تقاته ولا
تموتن إلا وأنتم مسلمون
Ma'ashiral Muslimin Rahimakumullah,
Di Jumat yang penuh berkah ini, marilah kita bersyukur atas segala nikmat Allah yang telah diberikan kepada kita. Begitu banyak nikmat yang diberikan sehingga kita tidak mampu untuk menghitungnya. Maka tugas kita hanyalah bersyukur dengan meningkatkan kualitas keimanan dan ketaqwaan kita kepada-Nya. Sebab ketaqwaan ini menjadi modal penting bagi kita untuk mendapatkan rezeki dan solusi setiap permasalahan yang kita hadapi. Sebagaimana Allah SWT berfirman dalam surat At-Thalaq ayat 2:
ومن يتق الله يجعل له مخرجا
Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah, niscaya Allah akan memberikan jalan keluar / solusi baginya
Ma'ashiral Muslimin...
Setiap kita pasti menginginkan rezeki yang lancar dan barokah. Akan tetapi masih banyak diantara kita yang masih belum menyadari bahwa kunci utama pembuka pintu rezeki terletak pada lisan dan hati yang senantiasa beristighfar. Diriwayatkan dari Qadhi Al-Hasan[1] bahwa suatu ketika beliau didatangi oleh beberapa orang dengan permasalahan berbeda. Orang pertama datang dengan keluhan masalah ekonomi yang semakin hari semakin terpuruk. Orang kedua datang dengan keluhan ia belum juga dikaruniai keturunan. Sedangkan orang ketiga datang dengan keluhan masalah pertaniannya yang belum juga menghasilkan. Mendengar keluhan-keluhan tersebut, Qadhi Al-Hasan merespon dengan hanya satu kalimat saja. Apa itu? Kalimat perintah Istaghfirillah atau mintalah ampun kepada Allah. Sang Qadhi menyuruh tiga orang tersebut untuk beristighfar. Mendengar perintah yang sangat sederhana tersebut, salah satu diantara mereka (dalam riwayat bernama Rabi' bin Shahib) memberanikan diri untuk bertanya: "Wahai Qadhi, banyak orang mengadu persoalan hidup kepadamu, tapi kenapa engkau hanya suruh kami untuk beristighfar? Apakah hanya istighfar solusinya?. Kemudian Al-Hasan kembali menjawab pertanyaan tersebut, namun kali ini dengan dalil Al-Qur'an, yaitu surat Nuh ayat 10-12:
فقلت استغفروا ربكم إنه كان غفارا (10) يرسل السماء عليكم مدرارا (11) ويمددكم بأموال وبنين ويجعل لكم جنات ويجعل لكم أنهارا (12)
Maka aku katakan (kepada mereka) mintalah ampun kepada Tuhanmu (Allah), sesungguhnya Dia Maha Pengampun (10) (Maka jika kalian beristighfar) niscaya Allah turunkan hujan yang lebat dari langit (11) Dan Allah akan memperbanyak harta dan keturunan kalian dan Allah jadikan kebun-kebun serta sungai-sungai untuk kalian
Kisah Qadhi Al-Hasan bersama orang-orang yang datang kepadanya ini menunjukkan kepada kita bahwa beristighfar dapat membuka pintu rezeki dari Allah Swt. dan mampu menjadi solusi dari berbagai permasalahan yang dihadapi.
Ma'ashiral Muslimin Rahimakumullah...
Ada banyak redaksi Istighfar yang diajarkan oleh Rasulullah SAW., diantaranya adalah Sayyidul Istighfar atau induk dari istighfar. Jika dalam jajaran hari-hari ada Sayyidul Ayyam atau induk / raja nya, yaitu hari Jumat, maka demikian juga istighfar ada induknya dan sebagian besar kita semua sudah mengetahuinya. Adapun bacaannya:
اَللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّيْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ خَلَقْتَنِيْ وَأَنَا عَبْدُكَ وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ. أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ. أَبُوْءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ. وَأَبُوْءُ بِذَنْبِيْ. فَاغْفِرْ لِيْ فَإِنَّهُ لَا يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلَّا أَنْتَ
Kita dianjurkan untuk memperbanyak beristighfar, utamanya membaca Sayyidul Istighfar agar dosa-dosa kita diampuni oleh Allah SWT. Dalam hadits disebutkan: Barangsiapa yang membaca Sayyidul Istighfar di pagi hari kemudian ia meninggal di malam harinya, maka ia termasuk penghuni Surga. Dan barangsiapa yang membaca Sayyidul Ayyam di malam hari kemudian ia meninggal di pagi harinya, maka ia juga termasuk penghuni Surga.
Sadar diri kita masih banyak dosa, masih banyak salah khilaf, maksiat, bahkan disetiap detik menit jam kita sering membuat murka Allah. Oleh karena itu mari kita perbanyak istighfar. Rasulullah SAW yang dijamin masuk Surga saja tidak lepas dari istighfar sebanyak 100 x dalam sehari atau tidak kurang dari 70 x. Sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad:
لأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ كُلَّ يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ
Maka dari itu, sekali lagi khatib mengajak para jamaah sekalian untuk beristighfar memohon ampun kepada Allah, agar hidup kita lebih tenang dan insya Allah rezeki datang dengan lancar dan berkah.
Ma'ashiral Muslimin Rahimakumullah...
Demikian upaya batin yang perlu kita lakukan agar senantiasa kita mendapatkan rezeki yang lancar dan berkah serta solusi segala permasalahan yang dihadapi. Semoga kita semua bisa mengamalkan istighfar dalam kehidupan sehari-sehari dan semoga Allah SWT mewafatkan kita semua dalam keadaan Husnul Khatimah.Amin YRA..
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِالْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khutbah II
اَلْحَمْدُ لله الَّذِيْ أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَقِّ، لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ وَكَفَى بِاللهِ شَهِيْدًا. أشهد ان لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد ان سيدنا محمدا عبده ورسوله وصفيه وحبيبه الذي لا نبي بعده
اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا محمد وعلى أله واصحابه ومن تبعهم بإحسان الى يوم الدين، أما بعد
فياأيها الحاضرون، أوصيكم ونفسي بتقوى الله فقد فاز المتقون، قال الله تعالى في كتابه الكريم: ياأيها الذين آمنوا اتقوا الله حق تقاته ولا تموتن إلا وأنتم مسلمون
وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللّٰهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فقَالَ تَعَالَى: إِنَّ اللّٰهَ وَمَلَآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِى، يَآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلٰيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اَللّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ. اَللّٰهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَأَعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ بُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِيْنَنَا الَّذِيْ هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتِيْ فِيْهَا مَعَاشُنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِيْ إِلَيْهَا مَعَادُنَا، وَاجْعَلِ الحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِيْ كُلِّ خَيْرٍ، وَاجْعَلِ المَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شَرٍّ بِرَحْمَتِكَ يَاأَرْحَمَ الرّٰحِمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ عِبَادَاللّٰهِ، إِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشَآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ. يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. وَاذْكُرُوا اللّٰهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللّٰهِ أَكْبَرُ
[1] Qadhi: 'Hakim' Al-Hasan bernama lengkap Abu Al-Hasan Ali bin Muhammad bin Habib Al-Bashri Al-Mawardi, seorang hakim dan ulama besar bermadzhab Syafi'i, dikenal sebagai tokoh politik pada masa Abbasiyah (Wikipedia)



Posting Komentar