Barsisha adalah seorang rahib (rahib = pendeta atau ahli ibadah) dari Bani Israil. Ia dikenal luas karena kesalehannya. Orang-orang mempercayainya dan menjadikannya sebagai panutan dalam ibadah. Ia menghabiskan puluhan tahun dalam ibadah kepada Allah, hidup menyendiri dan menjauhi dunia. Bahkan dikatakan ia memiliki puluhan ribu murid (santri) yang mampu berjalan 'tmelayang' di atas bumi. Masyarakat mengenalnya sebagai orang yang sangat saleh, doanya mustajab, dan tak pernah terlihat melakukan maksiat sedikit pun.
Dalam Talbis Iblis, Ibnul Jauzi rahimahullah menuliskan:
"عبد الله سبعين سنة، لم يعص الله طرفة عين"
"Ia menyembah Allah selama 70 tahun tanpa bermaksiat sekejap mata pun."
Kesalehannya membuat orang-orang mengaguminya, bahkan terlalu mengaguminya, hingga lupa bahwa manusia — siapa pun dia — tetap memiliki titik lemah. Dari fakta inilah, iblis mencoba menggodanya seperti halnya ia menggoda nabi Adam AS. dan Siti Hawa di surga. Kisah tragisnya menjadi pelajaran besar tentang bagaimana seseorang bisa terjerumus dalam dosa jika tidak waspada terhadap tipu daya iblis.
Strategi Iblis: Menyesatkan dengan Bertahap
Iblis mengetahui bahwa tidak semua orang bisa dijerumuskan dengan cepat. Untuk Barsisha, ia memilih strategi bertahap dan lembut.
Dikisahkan, para iblis dan bala tentaranya berkumpul dan membahas bagaimana cara menyesatkan seorang Barsisha. Mereka tahu bahwa iblis tidak bisa langsung mendorongnya kepada kekafiran atau zina, tapi mereka bisa menjeratnya perlahan-lahan, melalui celah-celah kecil dalam amal perbuatannya.
Inilah strategi tipuan bertahap (tadarruj) yang diungkap dalam kitab Talbis Iblis:
"بدأ بتقريبه للمعصية حتى أوقعه في الكبيرة ثم الكفر""Ia (setan) memulai dengan mendekatkannya pada maksiat, lalu menjatuhkannya dalam dosa besar, kemudian pada kekafiran."
Hari demi hari, seperti biasa Barsisha beribadah dengan khusyuk hingga saat itu dikatakan tidak ada yang menandinginya. Namun justru kesempatan itulah yang tidak bisa diremehkan begitu saja oleh Iblis dan bala tentaranya. Disinilah awal mula siasat Iblis muncul. Ia mulai dengan tipu daya secara bertahap. Dikisahkan bahwa kala itu ada tiga saudara laki-laki yang ingin pergi berjihad, dan mereka menitipkan saudari mereka kepada Barsisha karena mereka percaya akan kesalehannya.
Awalnya Barsisha menolak sebab ia tahu jika wanita dan laki-laki asing tidak boleh satu rumah. Pada awalnya, iman Barsisha masih kuat dan ia belum juga tergoda, namun setelah dirayu Iblis dengan berbagai bisikan, ia setuju dan menempatkan wanita itu di rumah yang terpisah. Ia masih yakin jika dengan rumah terpisah, syahwatnya tidak akan terusik. Namun, iblis terus membisikkan bahwa ia harus lebih dekat demi menjaganya. Iblis mulai merusak tatanan berpikirnya yang baik. Perlahan, Barsisha akhirnya tergoda. Ia berpikir mungkin memang lebih baik harus lebih dekat dengan wanita itu karena tujuan awalnya adalah amanah dari ketiga saudara laki-lakinya. Selanjutnya Barsisha mulai berinteraksi dengannya. Waktu demi waktu berjalan, Barsisha mulai tertarik dengan kecantikan si wanita dan akhirnya timbul nafsu syahwatnya hingga akhirnya mereka terlibat dalam zina.
Barsisha akhirnya membuat hubungan terlarang dengan wanita itu. Ia telah berzina. Ia telah melakukan dosa besar yang dilarang oleh Tuhannya. Setelah sadar ia melakukan suatu dosa yang terkutuk, ia takut dan khawatir jika diketahui oleh saudara si wanita itu. Dan lebih parah lagi, akibat dari zina tersebut, wanita itu hamil dan pada akhirnya ia melahirkan seorang anak. Barsisha semakin takut dan ia harus berpikir bagaimana caranya agar perbuatan zina tersebut tidak diketahui oleh orang-orang. Dari sinilah muncul bisikan Iblis kembali. Iblis mempengaruhi Barsisha bagaimana cara untuk menutupi aibnya, Iblis membisiki agar Barsisha menghabisi nyawa ibu dan anaknya tersebut demi menghilangkan jejaknya juga. Akhirnya ia membunuh wanita dan anaknya lalu menguburnya.
Namun tetap rasa bersalah menghantui Barsisha. Ia masih saja memikirkan bagaimana nanti jika saudara laki-lakinya bertanya akan keberadaan saudarinya? Dimana ia sekarang? Kebingungannya inilah yang menjadi kesempatan kembali bagi Iblis untuk menggoda imannya. Ia membisikinya bahwa tatkala saudara si wanita menanyakan keberadaannya, ia dilarang mengaku. Dan apabila memang si wanita ditemukan meninggal, ia digoda untuk mengaku bahwa si wanita meninggal karena sakit.
Benar saja beberapa waktu kemudian, tiga saudara si wanita yang berjihad kini kembali dan langsung beranjak ke kediaman Barsisha. Mereka menanyakan perihal saudarinya dan Barsisha menjelaskan bahwa saudarinya telah meninggal karena sakit. Namun salah satu dari tiga saudara tersebut belum begitu yakin dengan penjelasan Barsisha. Ia memintanya untuk menunjukkan kuburan saudarinya. Setelah dibongkar, ia menemukan kejanggalan: Mengapa ada bekas darah? Mengapa ada bayi di sekitarnya? Bukannya ia dikatakan meninggal karena sakit? Rasa penasaran tersebut ia utarakan ke Barsisha yang membuatnya semakin terdesak dan mengaku bahwa ia yang membunuh si wanita, ditambah lagi ia harus mengaku bahwa sebelum membunuh ia berzina terlebih dahulu.
Mendengar pengakuan Barsisha, meledaklah amarah tiga saudara si wanita itu. Ia marah besar dan melaporkannya ke hakim agar ia dihukum. Barsisha dihukum mati oleh penguasa setempat kala itu. Kesalehan dan nama baiknya harus gugur di mata masyarakat yang mempercayainya. Ia menyesal namun sudah terlambat. Ia harus menerima konsekwensi atas perbuatan maksiat dan dosanya.
Menjelang eksekusi mati, Iblis sekali lagi ingin memanfaatkan kerapuhan hati Barsisha. Ia datang kepadanya dan berkata:
"Aku yang telah menjerumuskanmu, dan aku juga yang bisa menyelamatkanmu. Sujudlah kepadaku, maka aku akan menyelamatkanmu."
Dalam keadaan panik dan penuh ketakutan itulah, Barsisha akhirnya sujud kepada Iblis. Namun setelah itu, setan meninggalkannya dan Barsisha pun mati dalam keadaan sujud kepada Iblis. Ia mati dalam kekufuran. Ia mati dalam dosa yang ia tanggung sendiri. Ia mati dalam keadaan menyembah selain Tuhannya. Imannya tergadaikan oleh godaan Iblis. Na'udzubillah Min Dzaalik.
Kisah ini bukan dongeng semata. Kisah ini pernah terjadi dan tentu saja telah diriwayatkan oleh sejumlah ulama. Diantaranya adalah Ibn Katsir dan Ibn Jauzy. Adapun rincian referensi kisah ini dipenggal dari kitab-kitab berikut:
1. Tafsir Ibn Katsir
Kisah ini disebutkan saat menafsirkan firman Allah dalam Surah Al-Hasyr ayat 16:
كَـمَثَلِ ٱلشَّيْطَـٰنِ إِذْ قَالَ لِلْإِنسَـٰنِ ٱكْفُرْ ۖ فَلَمَّا كَفَرَ قَالَ إِنِّى بَرِىٓءٌۭ مِّنكَ إِنِّىٓ أَخَافُ ٱللَّهَ رَبَّ ٱلْعَـٰلَمِينَ
"Seperti (keadaan) setan ketika dia berkata kepada manusia: 'Kafirlah kamu!' Maka ketika manusia itu telah kafir, ia berkata: 'Sesungguhnya aku berlepas diri darimu, sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan semesta alam.'"
(QS. Al-Hasyr: 16)
Ibn Katsir rahimahullah menyebutkan:
قال ابن عباس: كان راهب في بني إسرائيل يعبد الله في صومعته، فأتاه الشيطان ففتنه حتى زنى وقتل وكفر، فهذا مثله
"Ibnu ‘Abbas berkata: Ada seorang rahib di kalangan Bani Israil yang beribadah kepada Allah dalam biaranya. Lalu datanglah setan dan menipunya, hingga ia berzina, membunuh, dan akhirnya kafir. Maka itulah permisalan ayat ini."
(Tafsir Ibn Katsir, Surah Al-Hasyr: 16)
2. Talbis Iblis – Ibn Jauzy
Dalam kitab Talbis Iblis, kisah ini dijelaskan lebih rinci di Bab tentang Tipu Daya Iblis terhadap Para Ahli Ibadah.
قال ابن جريج: هو راهب اسمه برصيصا، عبد الله سبعين سنة، لم يعص الله طرفة عين، ففتنه الشيطان...
"Ibn Juraij berkata: Dia adalah seorang rahib bernama Barsisha. Ia menyembah Allah selama 70 tahun tanpa bermaksiat sedikit pun. Namun setan menipunya..."
(Talbis Iblis, Ibnul Jauzi, hal. 106)
Ibnul Jauzi menjadikan kisah ini sebagai contoh utama bagaimana Iblis menipu para ahli ibadah yang tidak memiliki ilmu dan kehati-hatian.
Lantas, hikmah apa yang dapat diambil dari kisah Barsisha ini?
1. Ibadah Tanpa Ilmu Itu Berbahaya
Barsisha adalah ahli ibadah, namun tidak memiliki ilmu dan bimbingan ulama. Ia mudah terjebak oleh bisikan halus setan.
“Barangsiapa berjalan tanpa petunjuk ilmu, ia seperti berjalan di malam gelap tanpa cahaya.”
2. Setan Menggoda Secara Bertahap
Setan tidak langsung mengajak kepada kekufuran, tapi bertahap:
-
Awalnya hanya membuka pintu kebaikan
-
Lalu menggoda mendekat
-
Lalu membuat merasa aman dalam dosa
-
Hingga jatuh ke dalam kekafiran
3. Jangan Percaya Bisikan di Saat Tertekan
Ketika dalam masalah besar, setan akan datang menawarkan “jalan keluar” yang sebenarnya menuju kehancuran.
4. Husnul Khatimah Itu Bukan Jaminan
Sebanyak apapun ibadah yang telah dilakukan, tidak ada jaminan seseorang akan meninggal dalam keadaan baik. Kita harus selalu memohon kepada Allah agar ditetapkan dalam keimanan hingga akhir hayat.
اللهم يا مقلب القلوب ثبت قلبي على دينك“Ya Allah, Dzat yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu.”
Kisah Barsisha adalah pelajaran yang sangat mendalam tentang bahaya menyepelekan bisikan Iblis, dan pentingnya menjaga diri dengan ilmu, taqwa, dan terus berdoa kepada Allah agar diberi akhir yang baik.
Sebagai penutup, marilah kita renungkan satu hadis dari Rasulullah ﷺ:
"Sesungguhnya seseorang di antara kalian ada yang beramal dengan amalan penghuni surga sepanjang hidupnya, lalu di akhir hayatnya ia beramal dengan amalan penghuni neraka, maka ia pun masuk neraka."
(HR. Bukhari dan Muslim)
Semoga kisah Barsisha ini menjadi suatu pengingat bagi kita bahwa Iblis bersumpah kepada Allah SWT untuk menggoda anak-anak Adam hingga kiamat.




Posting Komentar